3 cinta bertepuk sebelah tangan
Tiga Cinta Bertepuk Sebelah Tangan
Hari
pertama aku mengikuti ujian LDK atau Latihan Dasar Kepemimpinan, agar
aku bisa masuk OSIS. Itu semua sungguh melelahkan. Pertama adalah ujian
tertulis yang membutuhkan banyak wawasan dan ide. Sebenarnya nggak
terlalu kesulitan tapi justru kewalahan karena hari-hariku jadi sering
terhabiskan di sekolah. Papa, Mama sich nggak terlalu comen atau protes
dengan kesibukan baru aku di SMA ini, tapi…. Aku jadi tidak punya
banyak waktu dengan mereka. Sungguh melelahkan hari-hariku, tapi aku
lebih suka kegiatan di sekolah karena aku tidak terlalu betah di dalam
rumah seharian.
What’s wrong?
Aku merasa senang bisa masuk SMA yang tergolong favorit, dan itu juga
membuat orang tuaku bangga. Rencananya aku ingin kuliah di luar negeri
jadi aku harus masuk SMP dan SMA yang terbaik. Ini hanya obsesiku, tapi
entah nanti di tengah jalan…. Itu masih rahasia TUHAN.
Hari
ini, ada pembinaan dari pengawas OSIS, para mantan OSIS tahun lalu.
Yang sekarang mereka duduk di bangku kelas 3, yang nggak boleh lagi
terjun langsung dalam kegiatan sekolah. Tapi mereka diberi wewenang
untuk mengawasi dan mengevaluasi. Jantungku berdenyut lebih kencang kali
ini, entah kenapa. Aku sedang mendengarkan salah seorang pengawas yang
sedang memberi pengarahan. Tapi kenapa jantungku berdenyut kencang,
padahal nggak ada yang lebih dari fisiknya. Ia relatif. Tapi saat dia
bicara, aku seperti terbawa dan mudah memahaminya. Apakah ini namanya
KAGUM? Entahlah.
Aku mencoba bertanya pada Dhini, “Din, kamu tahu siapa dia?”
“Oh… itu, dia kan kak Rama, Rama Wijaya Nugroho. Mantan Wakil ketua OSIS, anak 3A. Kenapa?” Dhini tampak heran.
“Nggak
ada apa-apa kok, cuma tanya aja.” Kembali aku terdiam. Terhanyut lagi
dalam pembawaannya. Dia Rama… sepertinya aku pernah bertemu dengannya.
Dimana ya? Entah apakah aku mencerna perkataannya atau melamunkannya. Ya
setengah aja yang bisa aku pahami… ia bicara tentang tanggung jawab
atau ‘responsibility’. Aku hanya mengambil ini dari 5 menit ia paparkan di Aula tadi.
Dua minggu berlalu tanpa terasa olehku, tahap demi tahap telah ku lalui, akhirnya aku lolos, ya masih jadi sie gitu
nggak apa-apa yang penting pengalamannya. Hari ini rapat OSIS perdana,
setelah tahu kalau rapat kali ini pengawas OSIS juga akan datang, alasan
itu membuat aku agak bersemangat. Aku semangat menyambut hari ini. Ya
ini karena si Kakak yang tempo lalu membuat jantungku berdebar
akan datang juga, entah apa lagi yang akan terjadi padaku hari ini. Tapi
kali ini aku lebih konsentrasi agar tidak tampak memalukan.
5 menit berlalu….
“Namamu siapa?” Tanya Rama padaku.
Hampir aja aku salting, “Saya? Saya Vika, Sie B (bagian kesenian dan inovatif).” Jawabku lembut.
“Oh,
ya, kamu dan timmu yang urus dekorasi PENSI ya…! Aku serasa tersetrum,
dia bicara denganku? “Oke, itu aja pengarahan dari kami para pengawas,
dan selanjutnya silahkan kalian yang bertanggung jawab, tapi kami tetap
menghandel kalian….!” Tuturnya penuh bijaksana.
“Oke teman-teman, rapat kita akhiri. Sampai jumpa minggu depan. Terima kasih!” tutup sang ketua OSIS yang baru, Adit.
Hari
semakin sore, langit terlihat gelap, tampaknya mendung. Gawat!…. aku
nggak bawa payung. Kenapa ya, hari ini mendung sejak tadi… aku naik bus
biasanya. Dan turun di perempatan jalan. Jam segini sudah nggak ada
angkutan umum yang sampai di rumahku. Padahal jalan ke rumahku masih
sekitar 7 km. Papa sulit dihubungi. Whatever lah, aku masih bisa jalan kok. Ini hal yang biasa. Not big Problem.
Aku berjalan tapi kenapa rasanya belum apa-apa, padahal kakiku mulai lelah dan badanku sangat pegal. Ada sms masuk di Hp aku.
From : AdietZ (Ket OSIS)
Msg : Vik, don’t 4get bsk siapin konsep dekor pensi y? slmt bjuang…smgt!!!!
Sms
ini nggak mengurangi apapun dari rasa lelahku. Aku merasa lelah kali
ini, jam sudah menunjukan pukul 4 sore. Aduh… gimana nich, dah gitu
laper banget… *~*
“Dik….kok jalan?”
Aku kaget banget, dia Rama. Kak Rama…. “Eh… iya”.
“Rumahmu daerah Indah Sari kan? Ayo aku antar pulang…!” ajak Rama.
Aku tambah kaget, “Kok tahu? Makasih, tapi apa nggak ngrepotin?”
“Enggak, ayo….! Tar lagi hujan lho…” bujuknya
“Oke dech, makasih sebelumnya.
Aku
pun diantar kak Rama pulang, tapi sayangnya sampai rumah, rumahku gelap
sekali. Dia pun menemaniku 5 menit, kita ngobrol. Obrolan kami yang
baru masuk level 1 harus terputus, karena setelah terima telpon dia
pamit pulang. Huh…. Tapi hari ini aku sangat beruntung… dia datang pada
saat yang tepat. Hehehe…. Jadikan nggak kehujannan.
Ada sms lagi,.Siapa sich????? Nganggu aku yang lagi asyik bikin konsep.
From : AdietZ (ket OSIS)
Msg : jgn lpa ya bsk…..
Replayà
From : VikHa J
Msg : iy2 boz… ni jg lg ngrjain… sntai aj y….
Replayà
From : AdietZ (Ket OSIS)
Msg : OKey duech, Vik… Met Krj aj…o y, q dh ett fb u. thx y.GBU
Ini
anak… udah sms kalimat penutup aku balas, tapi dibalas lagi.. kapan
berhentinya??? Aku heran ini anak ‘maniak sms’ kayaknya… ah.. udah lah
nggak usah dibalas. Akhirnya udah terputus,aku bisa melanjutkan konsep
dan mengerjakan PR-PRku yang bertumpuk.
Rasanya pegal, ini udah jam 11 malam, aku memutuskan untuk tidur saja. Semoga hari besok menjadi lebih indah.
———————————–RAMA————————————–
Hari
ini, aku akan pidato di depan calon-calon pengurus OSIS yang baru
dilantik. Aku tahu aku harus bicara apa sebagai pengawas. Aku sudah siap
dengan semuanya. Memasuki aula menjadikan aku mengingat MOS yang telah
berlalu 2 tahun lalu, dimana juga aku bertemu my first love.
Gadis berambut panjang, putih dan manis. Yerika namanya. Aku baru bisa
berteman dengannya, entah! ini hubungan yang sangat rumit.
Aku
mulai mendekatkan mic dan berbicara panjang lebar, ada seorang gadis
yang membuatku sesekali melihatnya, dia manis. Tapi tak seperti Yerika,
dia terlalu imut dan kekanak-kanakan, aku mengenalnya, aku pernah
bertemu dengannya. Ya aku bertemu dengannya di gereja minggu lalu, tapi
tampaknya dia tak mengenaliku. Ya dia baru.
Dua
minggu berlalu setelah seleksi OSIS selesai, aku harus mulai serius
dengan pelajaran-pelajaranku yang makin lama makin sulit saja, aku harus
tetap mempertahankan prestasiku, aku harus masuk PTN favorit. Tapi
yang membuatku makin penasaran adalah gadis itu, Vika nggak bisa hilang
dari ingatanku, apa ini? Tapi aku masih mengharapkan Yerika. Aku masih
berjuang mendapatinya.
Setelah
mengikuti rapat perdana OSIS dan memberikan beberapa pengarahan aku
memutuskan untuk mengajak Yerika nonton. Tapi dia menolak karena ada
suatu alasan yang nggak aku tahu. Aku pun pulang dengan kecewa.
Saat
di jalan aku melihat sosok gadis yang tadi aku beri tugas, ya itu Vika.
Aku merasa kasihan kalau dia pulang harus jalan kaki, aku pun
menghampirinya. Menawarinya tumpangan tampaknya dia agak sungkan,
sungguh manis dan sopan. Tapi aku nggak tega melihat dia jalan
sendirian, akhirnya dia mau aku antar pulang. Tapi sayang sekali,
rumahnya sangat gelap. Aku pun menemaninya sekitar 5 menitan. Aku
mencoba mengobrol dengannya.
“Eh, dik… kenapa pengen masuk OSIS?” tanyaku
“Ehm… pengen aja, kan buat tambah pengalaman…” jawab Vika dengan nadanya yang terdengar masih seperti anak SD.
Percakapan kami terhenti, Bapakku menelponku. Aku harus segera pulang, aku tak ingin buat mereka cemas.
Aku
ingin mencoba smsan dengan Yerika, tapi…. Apa ini nggak terlalu
cepat??? Aku ragu… ah… sudahlah. Pasti nanti tiba saatnya. O ya, aku
belum tahu bagaimana tadi si Vika, apakah orang tuanya sudah pulang? Ah…
kenapa aku jadi mikirin dia? Tapi wajar aja aku memikirkan dia… kan
tadi aku tahu rumahnya aja gelap dan terkunci, kan kasihan juga kalau
sampai kelamaan. Ya liat besok aja dia pasti baik-baik saja.
Pagi
yang indah ditambah dengan tawanya sang matahari yang penuh kehangatan,
hari ini akan ada rapat lagi membahas PENSI tengah semester ini seusai
sekolah, untung saja aku sudah siapkan semua konsepnya. Aku tak ingin
sampai kak Rama kecewa dengan pekerjaanku.hehe…jadi semangat karena ada
vitaminnya. Wakakaka…. LEBAY mode on J semua design dengan sangat mantap
tersimpan diflashdisk. Semua pelajaran tampak biasa saja tanpa
memunjukkan suatu tekanan bagiku, apakah ini namanya kekuatan CINTA,
dimana kita bisa mendapatkan kekuatan ekstra untuk melakukan suatu hal.
Tapi kelihatnya pernyataan itu terkesan sok roman picisan…hahaha.
Bel
tanda berakhirnya aktivitas KBM telah berbunyi, semua siswa yang tidak
memiliki kepentingan telah meninggalkan sekolah, dan untuk satu minggu
ini aku menghabiskan hampir setengah hariku di ruang OSIS. Hari ini
tepat jam 3 sore rapat PENSI akan segera dimulai. Ketika aku memantapkan
langkah menuju kantin untuk lunch tiba-tiba seseorang mengagetkanku. Itu Adit (si ketua OSIS)
“Hai…Vik… mau makan siang ya? Bareng yuk, kebetulan aku juga mau kesana…”
“Oh…ya!!!” jawabku
Kami
melangkah bersama ke kantin, aku tampak aneh dengan Adit kenapa sejak
awal kami kenal, ia selalu bersikap manis seperti ini, kelihatan care gitu,
tapi aku dengar kabar kalau sebenarnya dia itu sudah punya cewek, tapi
kok kayaknya jarang sekali kelihatan sama pacarnya. Wow… mikir apaan
gue,,, GR??? AH… TIDAK MUNGKIN!!!! Be positive thinking aja, Vik….
Sedari
tadi adit terus memandangiku, bahkan ia berani menatap mataku terlalu
lama dengan tatapan aneh yang membuatku tak nyaman. Apa yang sebenarnnya
ia pikirkan? Aku tak pernah mengerti jalannya pikiran makhluk satu ini.
Aku mencoba tak memperdulikan tingkahnya namun akhirnya aku merasa tak
nyaman juga.
“Woy…” aku mengagetkannya
Adit sadar,”Sorry, Ra… eh… maksud aku Vika, ada apa??” wajahnya mulai berubah…
“Ha? Ra?? Sapa maksudmu?”
“Ah… enggak… maksud aku kamu punya mata yang indah sama seperti seseorang yang kukenal.”
“Oh,,, sapa memangnya? Cewekmu ya??”
“Ah,,, bukan,…”
Dasar
cowok!!! Yang ada di otaknya apaan sich, cewek melulu, pantas ada film
yang berani menyatakan kalau 9 dari 10 cowok pasti selingkuh. Apakah kak
Rama masuk yang 1 cowok atau 9 cowok itu ya? Tapi sepertinya tak
mungkin kalau kak Rama masuk kategori cowok yang bakal selingkuh. Haha..
menghibur diri sendiri.
Rapat
PENSI mid semester 1 telah dimulai, semua sie telah mempresentasikan
setiap tugas yang telah diberikan, kini giliranku. Oh my God… ini
pertama kalinya aku akan mepresentasikan hasil karyaku untuk design
dekorasi PENSI dan juga beberapa lomba. Aku mencari vitaminku. Ya itu
dia, ia tersenyum padaku… Oh Tuhan… apakah aku sanggup??
Penuturan selama 10 menit diakhiri dengan applause yang cukup melegakan, mereka suka dengan hasil designku, Thanks Tuhan.
Senyum puas dari wajah kak Rama membuatku makin kegirangan aku yakin
sampai aku pergi kea lam bawah sadarpun aku takakan melupakan senyuman
itu. Senyuman manis yang mempesona. SUASANA BENING cuiy…
——————————————–ADIT————————————————-
Menjabat
sebagai ketua OSIS memang impianku sejak awal, namun ini tak lagi
menjadi kabar bahagia jika seseorang yang kunantikan untuk melihatku
menjadi seorang pemimpin telah tiada sejak 1 tahun yang lalu, Rara.
Gadis itu telah menjadi sahabatku sejak TK, namun Leukimia telah
merampas hidupnya. Walaupun di akhir hidupnya aku lega ternyata
perasaanku tak bertepuk sebelah tangan, namun aku tak akan pernah
memilikinya.
Namun
semenjak hari itu, aku bertemu seorang anak perempuan yang amat bahkan
terlalu mirip dengan Rara. Dia Vika… hampir semuanya, hanya wajah yang
berbeda namun tingkah, perkataan, pola pikir bahkan matanya sama. Dia
membangkitkan kembali perasaanku yang telah terkubur bersama Rara.
Apakah ini yang namanya takdir? Apakah Tuhan benar-benar mengirim Vika
sebagai pengganti Rara? Tapi memang di dekatnya aku merasakan bahwa Rara
ada.
Hari
ini Vika memberikan presentasi yang sangat mengagumkan dengan
kejeniusannya menggabungkan budaya tradisional dengan hal-hal berbau
modern. Semua panitia dibuatnya kagum, anak yang baru menginjk usia 15
tahun itu mampu membuat kami takjub, sebelumnya belum pernah ada anak
yang dapat membuat konsep sedetail itu, bahkan membayangkan saja kami
tak pernah. Pengawas OSIS pun dibuatnya kagum apalagi diriku, aku
semakin yakin bahwa Rara berada dalam diri Vika.
Aku
sangat lega dengan rapat perdana PENSI hari ini, aku sangat bersyukur
ada di OSIS dan menjadi penitia PENSI, mereka memberikan apresiasi yang
sangat baik. Terutama kak Rama. Aku tadi mendapati bahwa dia tak pernah
sedetikpun memalingkan wajahnya dari diriku. Rasanya detak jantungku
makin cepat,oh Tuhan… apakah ini rasanya JATUH CINTA?? Rasanya aneh
sekali…panas dingin disertai detak jantung yang terus memacu cepat.
“Vik, pulang sama siapa?” aku amat kaget… itu kak Rama..
“Oh,,, sendiri Kak… “
“Bareng aku aja yuk…” Oh my God… Oh my God… dia menawariku pulang bareng…
“Nggak ngrepotin nich?”
“Ah,
santai aja… yuk…” ia meraih tanganku dan mengandengnya dengan cepat
tanpa mendengarkan sepatah katapun dari jawabanku, aku tak berani
komentar karena terlalu gugup dan tegangnya diriku dengan apa yang ia
lakukan. Rasanya SENANG tapi MALU… takut ada yang gosipin… TAPI MAU…
hahahaha… rasa nano-nano.
Seusai
di rumah kak Rama langsung pamit seperti waktu itu, ia tak ingin masuk
ke rumah. Jangan-jangan dia takut sama Papaku ya? Wah…mikir apa sich aku
ini??? Tanpa pikir panjang memasuki kamar dan membaringkan badan yang
telah kelelahan ini walaupun sudah terasa lengket karena keringat.
One message recived in my hp
From : AdietZ (ket OSIS)
Msg : bRu nGapa,Vik??? J
Replayà
From : VikHa J
Msg : gy iStRht a Jug, Dit… What’s up??
Replayà
From : AdietZ (Ket OSIS)
Msg : Ah… Cuma Tny aj, ehmmm ngmg2 U ad hub. Ap siCh sa5 k’Rama (Pngws OSIS)?? Kalo bLh tau sich…
“Waduh…
kok Adit tahu aku dianterin pulang kak Rama,,,wah,,, gimana nich kalo
jadi gossip bisa gawat.” Gerutuku sambil membalas kembali smsnya
From : VikHa J
Msg : ah… Gag ad ap2 kok.. Biasa aj. What’s wrong memangnya?
Replayà
From : AdietZ (Ket OSIS)
Msg : I’m jealous >.
Aku kaget bukan main dengan balasan Adit, dia mau ngerjain aku atau gimana sich bilang jealoussegala,
bukannya dia sudah punya. Tapi..ah..ni anak ngapain juga sich,
aneh-aneh saja, mana mungkin juga dia suka sama aku? Dari kapan juga?
Gazebo banget… aku tak tahu harus membalas apa lagi. Kulempar begitu
saja hpku dan mencoba memejamkan mata.
Siang
yang cukup terik membuatku bosan untuk meladeni semua mata pelajaran
yang disajikan, semangatku sedikit hilang apa lagi setelah sms Adit
kemarin, membuat suasana hatiku makin tak karuan. Aku memutuskan untuk
ke taman sekolah untuk mencari udara segar, merefresh segala
kepenatanyang ada di otakku dan yang jelas alasan utamanya adalah
menghindari Adit yang sejak istirahat pertama ingin mengajakku ngobrol.
MALES banget….
Aku
duduk sendiri dan di belakangku duduk kak Rama dan seseorang, siswi
kelas 3 juga. Apa ini? Mereka sedang bercakap-cakap serius. Walaupun
hobiku bukan menguping pembicaraan orang lain, tapi karena itu kak Rama
aku jadi penasaran. Menajamkan indera pendengaranku tanpa tingkah yang
mencolok.
“Beneran, Rik… aku serius dengan perkataanku, AKU SUKA KAMU…” Rama menyilangkan kedua telapak tangannya untuk menghilangkan kegugupannya.
Perkataan
kak Rama yang ditujukan untuk gadis itu seperti petir yang menyambar
hatiku dan langsung merobek-robek sejuta lembaran harapanku. PATAH HATI,
Kristal hatiku telah pecah.. aku menutup mulutku dengan telapak
tanganku rapat-rapat agar tak keluar suara tangisanku. Aku yakin kak
Rama tak tahu kalau aku ada di belakangnya. Akupun berlari, tak tahan
lagi aku mendengar semua pembicaraan mereka berdua.
Yerika
memandang Rama yang tampak lesu,”Tapi aku tak melihat perasaan itu
hanya untukku, Ram… aku tahu perasaanmu, tapi itu sudah tak seutuhnya
untukku? Untuk apa kita memaksakan diri untuk jadian.”
“Kenapa kamu bisa bilang begitu?”
“Aku
kenal kamu sudah lama, Rama,… aku tahu kapan kamu sedih, bahagia,
kecewa, patah hati dan bahkan jatuh cinta. Aku lihat ada perasaan itu
sekarang di hatimu untuk gadis itu. Walaupun kamu tak mengatakannya
padaku aku tidak buta, Ram…”
“Tapi..”
Yerika
melintangkan jari telunjuknya di depan bibir Rama,”Sudahlah, perasaanmu
padaku hanyalah kisah lama yang harus segera dilupakan. Dari dulu kita
mencoba namun selalu gagal, bukankah itu sudah suatu pertanda bahwa kita
tak mungkin bersama?”
Rama
hanya tertunduk dan merenung, sementara Yerika mulai beranjak dari
bangku dan menuju kelasnya. Entah kecewa atau apa yang Rama rasakan, ia
hanya GALAU, tidak tahu harus berbuat apa lagi. Apakah benar perasaannya
telah berpindah haluan? Atau hanya sesuatu ujian?
Vika
terus berlari mencoba sejauh mungkin dari taman sekolah, ia hanya
terbawa oleh perasaannya yang penuh dengan kekecewaan. Tanpa
memperhatikan arah ataupun tujuan Vika hanya ingin berlari sambil
menangis, sampai seseorang hampir tertabrak olehnya. Untung saja orang
itu responnya cepat, ia memegang bahu Vika agar tak terjadi tubrukan.
Ternyata itu Adit.
“Lho…Vika…kenapa?”
Hanya
dengan mengelengkan kepala dan meneteskan air mata yang dapat dilakukan
oleh Vika. Adit menuntun Vika untuk duduk di pinggir kelas yang
untungnya hari itu sudah banyak siswa yang pulang. Butuh waktu cukup
lama Adit menunggu Vika untuk tenang. Berkali-kali Vika kembali terisak.
Apa yang sebenarnya terjadi Aditpun hanya mampu menduga.
“Cerita
aja, Vik… aku mungkin hanya bisa menjadi pendengar setia…” Vika kembali
menggelengkan kepala, Adit pun menepuk pundak Vika tanda memberikan
dukungan dan penghiburan. “Mungkin ini terkesan sok tahu, Vik tapi aku
yakin kamu nangis pasti gara-gara Rama kan?”
Vika kaget, “Adit tahu??”
Kini giliran Adit yang hanya menggangukkan kepala.
Vika
menghapus air matanya, kini intonasi suaranya kembali normal walaupun
agak serak, “Ternyata bener ya, Dit orang bilang kalau kita berani untuk
JATUH CINTA kita pun harus berani siap untuk PATAH HATI.” Mata Vika
mulai berkaca-kaca.
“Kita
sama kan sekarang,Vik, sama-sama PATAH HATI? Jadi aku tahu apa yang
kamu rasain sekarang, bagaimana sakitnya ketika tahu kalau orang yang
kamu suka ternyata tidak menyukaimu.”
Kami
terdiam cukup lama, tanpa suara. Tak ada lagi kata yang terucap dari
mulut Vika maupun Adit. Sekolah kembali sunyi di sore hari. Semua siswa
siswi telah kembali ke rumah masing-masing membawa sejuta rasa tentang
BAHAGIA, SEBEL, CERIA, STRESS, TEKANAN, CINTA dan juga PATAH HATI.
By: qhillaharly(Telah dibaca 287 kali, 8 kali hari ini)





0 komentar:
Posting Komentar